Oleh: Restoe Prawironegoro Ibrahim
Suasana duka masih menyelimuti kami sekeluarga sejak kepulangan ibu ke rahmatullah sepekan yang lalu. Namun kini kelihatannya ayah sudah tidak lagidalam keadaan bergabung. Ia seolah tak mempedulikan kami, anak-anaknya yang enam orang jumlahnya.
Terbukti baru tujuh hari meninggalnya ibu, kami sekeluarga kedatangan wanita muda, yang usianya kami taksir kurang dari dua puluh lima. Wanita itu dating bersama-sama ayah pada suatu sore. Meski ia berpakaian hitam dengan raut wajah yang tampak berkabung, namun kami menduga, dari pancaran matanya, tersimpan gelora rasa yang hangat.
Usianya masih jauh lebih muda daripada usiaku, anak bungsu ayah. Wajahnya cantik bulat telur. Dan melihat sikapnya yang begitu dekat dengan ayah, dugaan kami langsung mengira dia adalah wanita kedua pengganti almarhumah ibu.
Aku sendiri tidak mengakui dan menyetujui langsung apa yag dituduhkan oleh kelima kakak-kakakku itu. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Seorang lawan lima kepala, jelas tidak bisa menang. Apapun alasan yang akan kuucapkan tak akan berarti, aku memilih lebih banyak diam saja.
“Kalau bukan pengganti ibu, mana mungkin ayah membawanya kemari ya. Tapi, Kenapa secepat itu? Lagi pula dia sangat belia dan tidak pantas lagi bersanding dengan ayah. Perbandingan usia keduanya amat menyolok, kan?” ujar Mas Lutfi dengan nada tidak begitu nyaman. Abangku yang sulung itu tampak demikian gemas. Wajahnya menampakkan ketidaksenangannya.
“Belum lagi apa komentar para tetangga nanti. Astagfirullah, bagaimana ayah sampai bisa terjerat begitu, ya? Aku yakin pasti wanita itu bukan dari golongan baik-baik. Buktinya?” sahut Mas Latif abangku nomor dua.
“Inilah kenyataan pahit yang paling tidak menyenangkan selama hidupku. Tetapi bagaimana lagi ? Apa yang bisa kita pebuat? Semuanya sudah terlanjur. Calon ibu kita tidak lebih tua dari usiamu, Lamri,” Mas Untung turut bersuara.
“Seharusnya dia lebih pantas jadi calon istrimu, Lamri. Bukan istri ayah. Heh, bagaimana aku mesti memanggilnya, dengan sebutan ibu? Aku tak bisa membayangkannya, tak bisa melakukannya,” Mbak Latifah, angkat suara.
“EH jangan kau lakukan itu, Lamri. Meski dia lebih cocok jadi istrimu, jangan ambil dia. Sebab aku yakin sekali dia bukan wanita baik-baik.”
“Ya. Aku juga tak bisa memberikan persetujuanku seandainya hal itu terjadi.”
“Aku sedih. Belum nyenyak ibu di alam baka, ayah sudah memalingkan diri pada wanita lain. Kasihan ibu .......” Sendu ucapan Mbak Latifah. Kami jadi tertunduk dibuatnya. Sementara aku hanya bisa menghela nafas dalam diam.
“Dari tadi kami kok tak mendengar nada suaramu, Lamri. Ada apa? Kamu sakit?” Tanya Mas Lutfi padaku.
“Tidak,” aku menggeleng.
“Lalu apa pendapatmu tentang wanita muda itu?”
Aku diam sejenak.
“Aku tak tahu. Aku belum mengenalnya secara keseluruhan.”
Mbak Latifah tertawa nyaring. Aku terkejut mendengarnya.
“Jadi untuk hal itu kamu perlu pendekatan lebih dahulu? Lebih dalam dan lebih akrab, sampai-sampai kau akan juga kena dipengaruhi olehnya, begitukah?”
“Mbak Latifah jangan dulu berprasangka padaku. Bagaimana kita bisa tahu dan menilai seseorang dengan secepat ini? Kita hanya dia datang bersama ayah. Dia seorang wanita muda yang cantik Dia bernama Anna Sri Rahayu…………………..”
“Cukup! Jangan membantah dan jangan memberikan alasan yang rumit-rumit. Aku tahu kau sudah terpengaruh olehnya dan aku tidak akan pernah menyalahkanmu, karena itu bukan berasal dari kemauanmu sendiri. Aku yakin kau, juga ayah, kalian berdua telah termakan oleh pengaruh sihir yang dibawanya.”
“Jangan bicara keras-keras, Latifah.”
“Kenapa? Takutkah kalian semua omongan ini terdengar oleh ayah kita?”
Aku mendekatinya.
“Mbak tidak baik didengar oleh teangga.”
Mbak Latifah mendadak terisak-isak.
“Lamri, aku kasihan pada almarhumah ibu. Aku takut wafatnya beliau karena penderitaan batin yang dialaminya karena wanita itu.”
“Tenanglah, Mbak. Serahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Mbak tidak usah khawatir. Aku akan tetap menjadi Lamri. Adik Mbak seperti tahun-tahun yang lalu.”
“Kamu tahu aku tak bisa selamanya menemani ayah dan kau.”
“Ya. Tapi kami tahu perasaanmu sebagai anak perempuan satu-satunya dalam keluarga kita, aku bisa mengerti apa yang tengah kau rasakan saat ini.”
“Ya.”
“Seandainya toh benar, dia pengganti ibu kita, barangkali akupun tidak akan bisa menerimanya begitu saja.”
Kami saling terdiam untuk beberapa lama. Abang-abangku semuanya terdiam tertunduk di tempatnya masing-masing. Sementara malam makin larut, kegelapan menyebar dimana-mana.
“Besok lusa aku akan pelang ke Madiun, Lamri. Aku tidak bisa lama-lama lagi menemani kau dan ayah. Disana, aku juga punya kewajiban. Hati-hati…., ya.”
“Secepat itukah Mbak Latifah mau pulang.”
Dia menganguk.
“Kalian juga?” aku berpaling pada abang-abangku.
“Ya.”
“Kami berharap kau daapat menjaga diri, Lamri. Juga ayah kita. Satu-satu anak ayah yang belum menikah hanya kau. Kau harus bisa menjaga dan menemani ayah, karena selama ini, kaulah yang masih tinggal bersama beliau. Pandai-pandailah membawa diri, karena hidup bersama seorang ibu tiri yang masih muda itu banyak resikonya,” aku hanya diam mendengarnya.
Beberapa saat lamanya kami hanya saling diam dan bertukar pandang. Saling berdialog dengan pikiran masing-masing. Sementara pikiranku sendiri mengembara ke sana kemari entah karena apa.
Wanita itu sudah hampir sebulan tinggal bersama kami. Selama itu aku tak pernah sekalipun melihat ayah dan beliau tidur satu kamar. Bukan apa-apa, hanya rasanya kok janggal sepasang suami istri tidak tidur sekamar. Atau memang, kakak-kakakku yang salah duga? Adakah rahasia dibalik kebersamaan mereka? Entahlah. Karena selama inipun ayah tak pernah mengajakku bicara. Kalaupun aku mengajaknya omong-omong, percakapan kami tak pernah menyinggung tentang kehadiran wanita itu.
Yang lebih mengherankan, aku harus berusaha susah payah menghindar dari mereka? Sebisa mungkin aku mengelak agar aku tidak bertatap muka dengannya. Pagi-pagi sekali aku buru-buru berangkat kuliah, dan baru pulang pada malam yang sedikit larut. Itu hampir setiap hari terjadi. Bahkan kadang aku menginap di rumah sahabatku.
Aku menjadi ragu-ragu ketika hamper menginjak bulan ketiga “Ibu” tidak menunjukkan tanda-tanda hamil. Selama ini kurasakan tindakannya wajar-wajar saja. Bangun pagi-pagi buta, menyiapkan sarapan pagi ayah, seolah kepada bapaknya sendiri. Dan ayah memperlakukannya bak putrinya sendiri. Aku semakin bingung. Sebanarnya bagaimana keadaan yang sesungguhnya?
Apakah penilaian dan dugaan kakak-kakakku selama ini, telah keliru sama sekali? Ataukah aku harus memberi mereka kabar agar tak lagi menulis surat dengan nada yang itu-itu juga. Memperingatkanku agar tidak lengah? Ah, sungguh, pada saat ini aku tidak mampu berpikir.
Suatu pagi aku terlambat bangun. Kebetulan saat itu ada kuliah pagi. Maka dengan buru-buru aku berangkat. Namun ada sesuatu yang membuatku mengurungkan niat berangkat ke kampus dengan tergesa-gesa. Suara “Ibu” yang mengejutkanku, yang hampir beberapa bulan ini baru sekali kudengar.
“Tidak sarapan dulu? Saya sudah memasak, kok,” sapa beliau dengan suara yang hampir-hampir tidak terdengar di telingaku. Namun sempat membuatku terpaku menatapnya.
“Saya… terburu-buru…”
“Ibu mengerutkan keningnya melihat sikapku yang kaku dan sedikit takut-takut. Beliau beranjak mendekat.
Aku terbelalak.
“Jangan. Jangan mendekati aku!” seruku tak sadar.
“Mengapa?”
Aku menatapnya dengan nanar. Gema suara kaka-kakakku mulai bersahut-sahutan. Mendadak aku jadi pening sekali. Aku berusaha menguranginya dengan memijit-mijit kepalaku.
“Kau sakit?”
“Tidak!”
“Lalu kenapa?”
Aku diam saja memandangnya. Bingung.
“Wajahmu memucat. Engkau sakit. Aku tak hendak menyakitimu. Mengapa aku tak boleh mengetahuinya?”
“Tidak. Tidak apa-apa. Maafkan, aku telah membentakmu, eh Ibu.”
Wanita muda itu tersenyum lembut. Sesaat aku jadi tertegun memandangnya. Senyum itu mengingatkanku pada senyum almarhumah ibu. Lembut dan menyimpan ketentraman bagi yang melihatnya.
“Ibu! Apakah aku tidak salah mendengar? Kau menyebutku Ibu?” tanyanya keheranan.
“Tidak. Kenapa?”
“Menurutmu, apakah aku pantas menjadi seorang ibu. Seorang istri dari lelaki seusia bapakku sendiri?”
“Kenapa tidak? Ayah menyukaimu dan engkau mau diperistri olehnya. Apalagi?”
“Apakah ayahmu tidak pernah bicara kepadamu?”
“Berbicara?”
“Ya… bicara tentang diriku. Siapa aku sebenarnya. Dan bagaimana nasibku sessungguhya jika tidak tertolong oleh ayahmu.”
“Apa maksudmu?”
“Jangan panggil aku Ibu, karena sebutan itu terlalu agung bagi diriku yang hina ini.”
“Aku tidak mengerti?”
“Ya, karena engkau tidak pernah mengetahui siapa aku. Aku akan bercerita padamu,” ujarnya sendu.
Aku diam memandanginya.
“Aku tidak tahu jika ternyata ayahmu tidak pernah menceritakan siapa aku sebenarnya padamu, juga pada saudara-saudaramu. Aku tidak tahu maksud sebenarnya ayahmu. Baiklah, itu urusanmu dan ayahmu,” dia memandangku sekali lagi.
“Aku merasa menjadi gadis termalang di dunia ini. Di desaku sana, seorang pamong desa telah merengut kegadisanku dengan paksa. Dia mengancam akan mengusirku dari desa jika aku membocorkan rahasia ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku dan orangtuaku adalah rakyat kecil, tak bisa berrbuat banyak. Aku hanya bisa menyesali nasib yang malang ini. Akhirnya, setelah dua bulan lewat, ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada diriku. Kau tahu apa itu? Aku hamil.
Alangkah menderitanya aku. Apa yang dapat kuperbuat? Tidak apa. Aku tidak berani ambil resiko. Salah-salah jika aku mengatakan siapa sebenarnya ayah dari jabang bayi yang kukandung, keluargaku akan terancam keselamatannya. Pamong itu punya kekuasaan, dia bisa berbuat apa saja. Bagaimanapun juga aku tidak inggin keluragaku menderita. Maka aku bungkam saja ketika bapak bertanya mengapa aku muntah-muntah dan hamper pingsan di sawah,” ceritanya.
“Bapakku marah besar dan aku dicaci maki sepuasnya. Bapakku rupanya mengetahui tanda-tanda wanita yang sedang mengandung. Dan pada puncaknya dia mengusirku, dia tidak ingin mendapaat aib dariku. Engkau pasti bisa merasakan, bagaimana perasaanku saat itu. Sedih, gundah, marah dan dendam beraduk jadi satu. Akhirnya dengan berat hati kutinggalkan desaku tercinta. Biarlah, tak seorang pun yang mengetahui semua ini. Aku percaya Tuhan pasti mendatangkan karma bagi makhluk yang berbuat sewenang-wenang. Aku hanya berdoa semoga pamong desa itu menerima ganjaranyang setimpal dari perbuatannya,” dia menyusut air matanya sejenak.
“Dengan terseok-seok aku melangkah tanpa tujuan yang pasti. Di tengah jalan, setelah aku melangkah berhari-hari, aku terjatuh karena kecapekan dan rasa lapar yang menggila. Lalu aku malihat lintasan rel kereta api yang panjang. Tanpa banyak pikir, aku merangkan menuju tempat itu. Dengan susah payah aku berhasil mencapainya. Dan aku berbaring di sana. Hanya ada satu pikiran yang melintas di kepalaku saat itu, mati! Hal itu lebih baik dan lebih meringankan diriku daripada harus hidup menanggung malu,” ucapnya memilukan.
“Aku sudah tidak ingat apa-apa lagi ketika kudengar suara bergemuruh dari kejauhan. Aku merasa kematianku sudah dekat, tetapi seseorang, dengan begitu cepat menyelamatkan aku dari maut. Dan orang itu adalah ayahmu!”
“Ayah?”
“Ya. Aku merasa berutang budi pada beliau. Sungguh!”
Aku diam.
“Aku merasa bersyukur mendapat pekerjaan di sini. Meski sebagai pembantu rumah tangga, aku bahagia. Sebab aku tidak merasa memiliki beban mental lagi. Walau toh, rasa yang tidak mengenakan hati ini masih ada. Apa lagi jika aku teringat peristiwa beberapa bulan berselang. Tapi sudahlah, maafkan aku. Aku telah menyita waktumu.”
“Tidak ada keinginan untuk kembali?” tanyaku.
Dia cuma tersenyum. Lalu dengan menghormat, dia bergegas berlalu dari hadapanku yang masih tertegun.
Ayah, apa sesungguhnya yang menjadi dasar tujuannya menolong wanita itu? Aku tak pernah mengerti sikapnya. Kalau saja beliau mengatakan kapada kami, anak-anaknya, tentu saja kesalahpahaman ini tidak akan terjadi. Lalu, sekarang, apa yang mesti kulakukan? Diam? Ataukah membicarakan hal yang sebenarnya kepada kakak-kakakku? Tidak. Aku tidak mau menambah persoalan ini semakin rumit. Entahlah, kurasakan kepalaku semakin pening dan berdenyut-denyut.
Ayah. Bagaimana juga aku harus mengakui, sebagai seorang lelaki aku bisa melihat bahwa wanita muda itu betul-betul masih muda sekali dan amat cantik. Aku mulai dirasuki perasaan tidak yakin bahwa ayah akan bisa menahan godaan.
Sumber:
Majalah Sartika
Tags:
#Cerita